Thursday, March 29, 2012

Mahasiswa, Apa yang kau cari?

Tulisan ini bukan bentuk tendensius terhadap figur mahasiswa, karena saya sendiri pernah menjabat sebagai mahasiswa dan mungkin akan memangku jabatan itu lagi di kemudian hari ketika melanjutkan studi. Tulisan ini adalah bentuk kekhawatiran saya terhadap mereka yang begitu gagahnya melempar batu atau apa saja di tengah demonstrasi menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Saya miris melihat mereka yang (katanya) intelektual dan duduk di bangku tertinggi sistem pendidikan di negeri ini, tapi tidak dapat mengaplikasikan intelektualitasnya secara nyata dalam bentuk yang positif.

Saya benar-benar terbakar kesal mendengar seorang mahasiswa yang dengan lantangnya berkata bahwa “Anarkis itu kalau tidak ada tujuan, sementara kami mempunyai tujuan yang jelas” ketika di dimintai tanggapan oleh sang presenter acara televisi tentang tindakan para mahasiswa peserta demonstrasi yang merusak dan membakar fasilitas publik, menghancurkan kendaraan-kendaraan plat merah, melempari kendaraan operasional perusahaan minyak dalam negeri dan menyandera kendaraan-kendaraan pemerintah. Tujuan mereka sudah berbelok, hanya memanfaatkan tema kenaikan harga BBM untuk melampiaskan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan presiden SBY saat ini.

Jika seseorang tidak dapat menghargai yang kecil, maka dia tidak pantas mendapatkan sesuatu yang besar” – unknown

Bagi para mahasiswa yang hanya dapat menyalahkan presiden sebagai pusat kepemimpinan yang dalam hal ini telah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM per 1 April 2012, seharusnya dapat bersikap lebih terhormat. Jika kalian tidak sependapat, maka berdialog, jika tidak diberikan kesempatan untuk berdialog secara terbuka dan terhormat di muka publik, maka sebagai golongan berpendidikan, berorasilah dengan terhormat! Jangan bersikap anarkis dan menimbulkan antipati dari masyarkat umum dan rakyat kecil yang (katanya) kalian perjuangkan itu. Jika kalian merasa bahwa pendapat kalian tidak juga didengar dengan orasi dan demonstrasi yang damai, jangan memboikot fasilitas publik karena itu hanya akan menimbulkan permasalahan dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap masyarakat lain. Sebagai mahasiswa, ada satu lagi yang bisa kalian lakukan: BERHENTI BICARA DAN BERTINDAK. BERIKAN SARAN DAN SOLUSI KREATIF BAGI PEMERINTAH UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN BBM DAN TRANSPORTASI. Berkompetisilah dengan mahasiswa lain, gunakan ilmu pengetahuan yang sudah kalian dapat untuk memunculkan solusi alternatif bagi seluruh masyarakat Indonesia yang dengan solusi kalian itu harga BBM tidak perlu naik. Kemukakan manfaat, keuntungan, dan hitung-hitungan matematis atau ekonomis yang benar di muka publik hingga pemerintah dan masyarakat umum yakin, bahwa dengan menerapkan solusi kalian, BBM benar-benar tidak perlu dinaikkan. Bukankah ada begitu banyak mahasiswa pintar di negeri ini? Calon ekonom, insinyur, ilmuwan, dan orang-orang berintelektual yang dapat membungkam mulut pemerintah agar tidak lagi memberikan alibi untuk tetap menaikkan harga BBM? Kenapa tidak melakukan seperti itu? Kenapa merasa begitu gagahnya dengan membakar dan melempar? Sudahkan kalian sanggup membeli dan membangun sendiri fasilitas publik yang kalian hancurkan itu? Sebagai mahasiswa, apa kalian memang sudah berkontribusi membayar pajak sehingga merasa berhak menghancurkan fasilitas publik tersebut?

Bahwasannya benar, presiden mengambil kebijakan yang kontroversial dan program kerja yang telah diaplikasikan belum membawa perubahan yang signifikan terhadap keadaan perekonomian bangsa pada khususnya. Lebih lanjut, di tengah ketidakpuasan rakyat terhadap performa pemerintah saat ini, presiden justru seolah memperkeruh suasana dengan memunculkan rencana kenaikan harga BBM. Emosi rakyat terbakar. Kecewa, karena seharusnya presiden lebih bersimpati terhadap kondisi masyarakat Indonesia saat ini, di mana masyarakat ekonomi kelas bawah masih mendominasi. Mengutip Sultan Hamengkubuwono ke X, “jangan menciptakan generasi miskin baru!” itulah sebenarnya yang membuat masyarakat tidak dapat menerima kenaikan harga BBM. Bahwasannya keadaan saat ini sudah sulit. Rakyat tidak menuntut harga minyak duduk di angka 1000 rupiah, rakyat hanya meminta status quo dimana BBM jangan sampai dinaikkan.

Bagi masyarakat yang menyetujui kenaikan harga BBM mempertimbangkan efek jera terhadap para pengguna kendaraan bermotor, lebih jauh mungkin dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya dan mengurangi polusi di bumi Indonesia. Tapi, perlu diperhatikan, komposisi antara masyarakat kaya dan masyarakat ekonomi kelas bawah sangat tidak seimbang, bahwa kenyataannya jauh lebih banyak masyarakat miskin di negeri ini. Kenaikan harga BBM akan menimbulkan efek domino untuk harga barang kebutuhan yang lain, seperti bahan pangan. Pergilah ke pasar-pasar, saat ini, sebelum tanggal diberlakukannya kenaikan harga BBM, harga kebutuhan pangan seperti cabai, telur, bawang dan sebagainya sudah lebih dulu naik. Pedagang cemas, omset menurun karena daya beli masyarakat pun menurun. Ongkos produksi di pabrik-pabrik juga akan naik yang kemudian turut berkontribusi terhadap kenaikan harga produk. Kemudian yang pasti akan menyusul naik adalah ongkos distribusi barang-barang kebutuhan yang paling nyata menggunakan BBM. Masyarakat miskin akan semakin tercekik sementara masyarakat ekonomi kelas menengah -yang menyerempet batas masyarakat miskin- besar kemungkinan akan bergabung dengan kelas di bawahnya dan menambah angka masyarakat miskin di negeri ini. Mungkin sosok pemimpin yang berasal dari masyarakat kelas bawah akan jauh lebih mengerti kekhawatiran rakyatnya saat ini dan dapat mengambil kebijakan yang lebih bijak. Akan tetapi, di negeri ini rupa-rupanya uang lebih berkuasa dan lebih bisa berbicara daripada hati nurani dan simpati.

Monday, December 5, 2011

Kuliah Malam

Palembang, pukul 20:41,
Di luar hujan, atau mungkin sudah reda. Yang jelas pantulan lampu memancar jelas dari jalanan yang basah. Mahasiswa di kelas ini sedang mengerjakan tugas. Berkutat dengan logika sendiri untuk mengerjakan soal. Saya? saya menanti, beranjak dari tempat duduk dengan periode waktu yang acak untuk melihat lebih dekat dari sisi mereka, meski sebetulnya di komputer saya semua pun bisa terlihat jelas. Perangkat lunak yang terinstall di komputer saya sama seperti CCTV untuk masing-masing siswa. itu salah satu kontribusi besar teknologi untuk dunia pendidikan. Dosen dimungkinkan memantau aktivitas mahasiswa dengan komputernya.
Palembang, pukul 20:45
saya masih duduk manis menunggui mahasiswa saya mengerjakan tugas. mata kuliah olah logika ini cukup membuat saya rebutan oksigen dengan mereka, karena fungsi otak mereka bekerja lebih keras dari sebelumnya dan memerlukan suplai energi lebih banyak. mereka mahasiswa tangguh. para pekerja di siang hari yang mengatur energi dan pikiran untuk mencari pengetahuan di bangku kuliah.
mereka mahasiswa tangguh. mengatur emosi dan tenaga untuk menyerap ilmu dan mengerjakan setumpuk tugas dari dosen, di tengah tugas-tugas kantor di bawah Deadline. terbayang wajah atasan yang menanti tugas selesai sambil juga memikirkan bagaimana bisa menyelesaikan berbagai tugas kuliah. meski segelintir masih juga ada mahasiswa non-pekerja yang menganonimkan diri di tengah para mahasiswa-pekerja ini.
dulu saya menempuh pendidikan normal, kuliah di siang sampai sore hari, meski sorenya saya mempunyai jadwal private atau kursus, tapi saya tahu bahwa saya tidak akan bisa maksimal untuk bekerja di siang hari dan kuliah di malam hari. jadwal kuliah malam di tempat saya bekerja sebelumnya adalah pukul 5 sore hingga 8:30 malam. namun, di tempat saya mengajar sekarang, jadwalnya sedikit lebih tidak manusiawi, pukul 6:30 - 9:30 malam.
saya bukan mengeluh, untuk saya itu adalah pilihan dan tanggung jawab yang harus dijalani. tapi kembali lagi, bahwa semua mahasiswa saya hanyalah manusia biasa, sama dengan saya. saya merasa bahwa waktu perkuliahan tidak efektif. meski mereka punya energi yang cukup, tapi waktu 3 jam dengan break 15-20 menit untuk satu mata kuliah yang bobotnya 4 sks, akan menghasilkan output yang tidak optimal. pertama, energi mahasiswa pekerja tentu tidak maksimal. setelah 8 jam dihabiskan di kantor dan berjibaku dengan kemacetan lalu lintas mengejar kelas, tentu secara fisik mereka akan kelelahan. ditambah, permasalahan-permasalahan yang mungkin mereka hadapi di kantor. semuanya mencoba menyusup dan mencari ruang di dalam pikiran mereka. kedua, harus diperhitungkan berapa lama waktu maksimal seseorang untuk bisa fokus menyerap pengetahuan dengan energi sisa bekerja. bisa bertahan selama satu setengah jam dan menerima kemudian mengerti materi? itu sungguh luar biasa. ketiga, kewajiban diberikannya tugas kelas dan tugas rumah kepada mahasiswa, kadang (atau bahkan sering) membuat mahasiswa menilai dosen tidak manusiawi, sementara di sisi lain dosen yang bersangkutan harus berhadapan dengan kurikulum dan peraturan yang ditetapkan institusi.
saya menghindari subjektivitas dalam penilaian, berusaha menegakkan objektivitas untuk semua. kondisi mereka adalah pekerja memang tidak seharusnya mempengaruhi penilaian akhir saya terhadap mereka. saya tidak boleh menimbulkan kecemburuan sosial mahasiswa siang dari royalnya saya memberikan nilai terhadap mahasiswa malam. tapi tentu saja, bagi saya mahasiswa pekerja itu luar biasa. :) tugas saya sekarang adalah menyampaikan pengetahuan secara maksimal dan terus mencari cara bagaimana mereka bisa menyerap pengetahuan secara optimal. happy teaching.

Monday, October 17, 2011

Seribu Dua ribu ala Penyair Jalanan

Tidak tahu pastinya kapan mereka mulai berbaur menjadi satu di jalanan, di dalam bus-bus sejuta pengharapan tepatnya. Ini kali kedua saya berada di situasi yang cukup menegangkan.

Lapar…

Lapar Tuan, Lapar Nyonya…
Lapar itu sangat menyakitkan!

lelaki itu berteriak kencang membacakan syair yang lebih tepat dikatakan umpatan, cacian, atau makian terhadap keadaan. dari caranya berteriak, dia cukup kuat untuk menjadi kuli angkut atau kuli bangunan daripada di bus kota.

Tentu saja mereka tidak bersenandung, melantunkan lagu-lagu melayu seperti lazimnya pengamen simpang empat atau membawakan indo pop yang digandrungi remaja saat ini.

saya merogoh kantong dengan hati-hati, mencoba menemukan pecahan kecil rupiah. dalam hati memang ingin memberi, tapi yang terjadi? kamu justru akan membaca lebih banyak takut dari bahasa tubuh saya. Betapa tidak…

daripada kami mencopet,
merampok harta Anda,
lebih baik kami membaca puisi
seribu dua ribu tidak ada artinya bagi tuan dan nyonya!

ada unsur pemaksaan, penekanan, dan bumbu ancaman. Kontan saja penumpang lain langsung merapatkan barang bawaannya. Khawatir kalau-kalau para penyair jalanan itu kalap atau gelap mata.

Entah kapan mereka mulai menjadi penghuni baru komplek simpang empat, berdampingan dan bertetangga dengan pengemis, pengamen, preman, dan mereka yang menjadikan jalanan sebagai tempat tinggalnya.

Aih, andai saja mereka tahu betapa berartinya seribu dua ribu itu.
andai mereka tahu betapa susah dan bersabarnya pedagang kecil di sudut pasar, bersimbah peluh menunggu pembeli hanya untuk seribu dua ribu.

betapa mereka yang tak sempurna fisiknya menaruh harap akan fisik yang sempurna seperti mereka punya.
betapa banyak dari mereka yang tak sempurna fisiknya mengharamkan dirinya dari meminta-minta.

Lapar…

Lapar Tuan, Lapar Nyonya…
Lapar itu sangat menyakitkan!

Ah, lagi-lagi perut kosong dapat membuat orang melakukan berbagai cara hingga tak jarang membiaskan batas kewajaran, apalagi halal dan haram.

Sunday, October 16, 2011

Being 20's Vs Get Married

di Indonesia, mau di kota besar atau bukan, ketika wanita menginjak usia 20 tahunan, lazim sekali lingkungannya akan mengarahkan pembicaraan, pemikiran, atau sekedar pertanyaan tentang pernikahan.

Lebih lagi jika si wanita ternyata sudah menyelesaikan studi dan mendapat gelar sarjana di awal 20 tahunan. Tanpa paksaan dan tuntutan yang begitu berarti akan pekerjaan dan karir yang matang nan menjulang, para wanita akan mulai diarahkan untuk memikirkan pernikahan, keluarga, anak, dan lain sebagainya. pendek kata adalah keluarga.

ketika si wanita sudah terlalu asyik berkarir, atau mengikuti passion untuk bekerja di perusahaan atau meneruskan study sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi, masyarakat mulai mempertanyakan “bagaimana pendamping hidupnya kelak?” bahkan banyak yang mencibir bahwa ketika karir seorang wanita itu terlalu gemilang atau prestasi akademiknya terlalu baik… maka semakin sulit menemukan pendamping. Tidak lain karena masih banyak pria yang mempertahankan pakem mereka harus lebih tinggi baik dari segi karir ataupun pendidikan dari istri mereka. Aih.. terlalu sempit pandangan seperti ini sebetulnya.

padahal menikah bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipikirkan, apalagi di awal 20 tahunan. mengutip seorang teman “married is not only about having a house and lets live together”.