Sunday, October 17, 2010

Melancong ke Ibukota demi ITP

A dream to continue my study overseas in one circumstances -scholarship- made me went to the central city, Jakarta. That was all for a piece of ITP (Institutional TOEFL Program) result. Well, people say that "there must be something to be sacrificed for the thing you really wanted -and often many". Travelling not for enjoying the environment, visiting nice places, or spending time with your buddies there... not in the real meaning. But at least, I went around 3 parts of Jakarta -from central, east, till the south of Jakarta- by myself and by keeping the most important thing "Jl. Merpati no.21 Halim PK" LOL, that's the address of my family's house anyway.


*all images captured, had been moved. in the name of convinience. sorry.


(pose in front of National Monument Jakarta... The cool architecture -considering that building was built long time ago, when the architecture world in Indonesia isn't as cool as today)

(pose... in some corners I had waiting for years)
:D

well, about the ITP itself was held on October 12th, 2010. As a villager let to visit Jakarta by myself for the first time... I went to Neso office in Jamsostek Tower, South Jakarta. That was totally different with the condition in my city. Beside I had to follow the test in such kind of fantastic building... I had to face 'the competition feel' among the participants. The strict rule was applied correctly, and now I hope I can get the best result which fits the minimum score of the administrative requirements. Amin.

Saturday, October 16, 2010

Dunia Tanpa Bhineka

Dunia bukan dunia jika semua satu warna, dan tak ada aku, kamu, atau mereka.

**jeda**

Waktu yang cukup lama dengan pikiran yang disesaki berbagai keberagaman ketika mencari sedikit saja cela keseragaman.

Sulit sekali membayangkan hidup tanpa keberagaman. Ketika semuanya hanya satu warna atau homogen jika merunut bahasa ilmiahnya.

Sipit, bulat, hitam, putih, keriting, lurus, tinggi, pendek, dan semua keberagaman yang sering terabaikan itu sangat berarti membuat manusia menjadi manusia yang hidup dalam dunia yang sebenarnya. Luangkan waktu sejenak untuk sekedar membayangkan bahwa semua manusia mempunyai ciri fisik hingga sifat yang sama, berkulit putih, tinggi, berambut lurus, dan mempunyai bentuk hingga lekuk tubuh yang sama satu dengan lainnya. Semuanya seperti kumpulan manusia cloning yang tidak akan mengenal kata iri dengan bentuk/ lekuk tubuh manusia lain karena apa yang mereka miliki persis sama dengan yang lain. Maka, kita tak akan pernah mengenal kata keriting, hitam, hingga istilah langsing karena faktanya dalam keseragaman semua hanya satu modelnya, satu bentuknya dan semua persis sama. Entah bagaimana cara berkomunikasi di tengah masyarakat yang persis sama satu dan yang lain, karena nama manusia sendiri tercipta karena adanya perbedaan ciri fisik yang menggambarkan sosok sang empunya nama.
Dunia tanpa bhineka, dunia tanpa keberagaman. Ketika semua manusia hanya mengenal satu bahasa… maka tak akan ada pertengkaran antara kelompok orang berbeda asal yang mengalami miskomunikasi karena bahasa yang beranekaragam. Tapi, jika manusia hanya mengenal satu bahasa, maka tak akan ada usaha manusia untuk belajar mengerti bahasa masyarakat dari belahan dunia lain karena keinginan berkomunikasi dan bertukar informasi. Manusia hanya perlu membawa satu kamus besar bahasa saja kalau begitu, dan hidup dalam keterbatasan kosa kata. Tak akan pernah ada materi bahasa serapan dalam pelajaran bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia sendiri mungkin tidak akan pernah dikenal dalam dunia tanpa keberagaman bahasa.
Ketika semua manusia terlahir berkulit putih, maka takkan ada cerita perjuangan bangsa kulit hitam untuk menuntut persamaan hak dan perlakuan yang sama dengan bangsa kulit putih. Takkan ada presiden kulit hitam pertama di tengah masyarakat kulit putih, dan sejarah suatu bangsa tidak akan begitu melibatkan perasaan ketika akhirnya suatu perjuangan menemui titik terang. Jika semua manusia berambut lurus maka takkan ada inovasi alat pelurus rambut yang membuat jutaan wanita rela antri di salon-salon kecantikan demi meluruskan rambutnya dengan alat itu. Jika semua manusia terlahir persis sama dalam dunia tanpa bhineka, hingga semua bentuk daun hanyalah satu rupanya… maka dunia yang seperti itu bukanlah dunia yang sesungguhnya dan membayangkan hidup tanpa keberagaman mengarahkan diri pada jutaan kemungkinan yang membosankan, mengerikan, bahkan tak terbayangkan.
Ya, dunia tanpa bhineka, dunia tanpa keberagaman bukanlah dunia. Manusia tanpa keberagaman tidak akan pernah dikenal sebagai manusia. Bahkan matahari yang membantu melihat keberagaman dengan menebarkan keberagaman itu sendiri lewat MEJIKUHIBINIUnya, pun takkan ada Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika tanpa bhineka itu sendiri.

Tuesday, October 5, 2010

Menjalani Potongan Cita-cita

Banyak yang ingin ditulis tapi entah kenapa belakangan jadi sangat sulit untuk menuangkannya secara nyata. Life has been much fun recently, meski aku masih beradaptasi untuk menjadi satu bagian dari hidupku saat ini. Selalu ada perbedaan dan aku menyesuaikan diri untuk hal-hal yang aku kehendaki, bukan mengubah diri. Sebagian besar aktifitas dimulai setelah makan siang hingga malam (perlu dicatat, aku tidak ada di rumah selama rentang waktu itu). Untuk alasan yang kuat dan cita-cita yang tetap kurengkuh, maka aku menjalaninya. Meski di lain sisi Ayah dan Ibuku saja yang sering mengingatkan bahwa aku menjalani begitu banyak kegiatan.

previous posting, Aku Sepuluh Tahun Lagi, potongan tulisan yang menjelaskan akan menjadi apa aku sepuluh tahun lagi. Untuk sampai ke waktu itu, di sinilah aku berada saat ini, larut dengan segala aktifitas yang memang harus kulakukan jika aku masih ingin sampai pada saat itu. Melakukan semua yang aku mau sebelum aku sampai pada kata istirahat. Sekarang aku sudah mendapatkan sedikit gambaran bagaimana rasanya menjalani hidup yang demikian. Tubuh bergerak dari satu tempat ke tempat lain, berpacu dengan waktu, turun dari satu bus ke bus yang lain, bertemu banyak orang, menjalankan kegiatan yang berbeda-beda, hingga akhirnya sampai ke pembaringan di ruang pribadi untuk melepas lelah sebelum beraktifitas lagi.

Pelajaran yang kudapat, untuk mencapai cita-cita sepuluh tahun yang akan datang... maka aku harus bersiap dari sekarang. Menjaga stamina yang sangat krusial untuk manusia hiperaktif LOL, meningkatkan kedisiplinan dalam soal waktu jika tidak mau ditegur oleh orang lain (aku sempat kelabakan juga dengan manajemen waktu karena aktifitas yang seolah tidak pernah putus, tak ada jeda dimana kamu bisa meluangkan waktu untuk sekedar nonton infotainment), memanfaatkan waktu sebaik-baiknya (lebih merasakan bagaimana harus memanfaatkan 5-10 menit selama di bus untuk bisa membaca ato sedikit belajar), semua proses ini menyenangkan. once again, life has been much fun for me, happy to share with you
.

Saturday, April 24, 2010

Aku sepuluh tahun lagi





Jika aku seorang Chairil Anwar, 10 tahun mungkin tidak akan memberikan perubahan yang signifikan di sisa 1000 tahun kehidupanku. Tapi aku bukan beliau meski aku ingin hidup jauh lebih lama dari itu untuk merealisasikan semua mimpi-mimpiku. Melihat dokumentasi hidup tentang diri sendiri, tentang seorang aku, dengan segala metamorfosa yang terekam lewat gambar, tulisan, dan cerita sahabat, aku berkata yakin “my life changes a lot”.

Sepuluh tahun yang lalu, aku masih berseragam putih merah. Belum begitu jelas memikirkan bagaimana aku di sepuluh tahun kemudian, tapi satu yang pasti dalam ingatan bahwa aku sudah menanamkan niat yang kuat di dalam hati bahwa “aku ingin ‘dilihat’”. Ada hukum alam yang selalu dibicarakan oleh para tetua sebagai wejangan untuk anak cucunya -dilakukan berulang-ulang hingga mustahil untuk dilupakan- bahwa “hanya dua tipe manusia yang akan dilihat dan diingat oleh dunia, mereka yang sangat baik atau yang sangat buruk. Sangat pandai atau sangat bodoh, berbudi baik atau menjadi kendali di hampir setiap keonaran. Sementara mereka yang berada di antara keduanya atau yang biasa-biasa saja, tidak akan dilihat bahkan sangat potensial untuk dilupakan”. Hukum alam yang rajin diperdengarkan para tetua termasuk para guru semasa sekolah itulah yang kuterapkan dalam rentang waktu sepuluh tahun ini dan akan tetap dijalankan sepuluh atau dua puluh tahun mendatang bahkan di sisa hidup seorang aku.

Banyak cerita dari tiap motivasi dan proses yang terjadi untuk menata hidup lebih baik. Cerita dan proses yang mungkin tidak begitu penting untuk sebagian orang yang tidak berhubungan dengan cerita atau pun proses itu sendiri, hingga akhirnya aku jadikan bagian dari sekelumit kecil rahasia kehidupan seorang aku. Aku dengan rahasiaku, -dengan semua mimpi dan optimisme serta usaha untuk mentransformasikan jutaan mimpi menjadi realita- menjadi pribadi yang terkesan begitu serius untuk orang-orang disekitarku hingga mereka bingung mencari cara berkomunikasi dengan seorang aku. Mereka sebagai manusia independen dan tidak berkoalisi secara aktif denganku memang mempunyai hak penuh untuk memperlakukan aku sebagai pribadi yang serius dan kaku seperti apa yang sudah mereka gambarkan dalam kepala mereka masing-masing. Dulu aku adalah seorang pemimpi ulung, tapi kini aku sudah terbangun. Aku sudah puas bermimpi di sepuluh tahun sebelumnya dan sekarang aku berada pada fase dimana aku berjalan, berlari kecil, jatuh, bangkit, dan berlari lagi di sisa tenagaku bahkan tak jarang terseok-seok untuk semua mimpi yang akan bermetamorfosa menjadi realita yang mengagumkan di sepuluh tahun mendatang.

Aku sepuluh tahun yang akan datang –yang kalau tak berbelok arah mata angin masa depan seorang aku- akan menjadi “orang sibuk” seperti apa yang aku cita-citakan sebelumnya. Aku beri peringatan untuk menahan hati dan lidah untuk tidak mencibir, mencemooh, merendahkan bahkan meragukan semua yang aku kejar. Sedikit peringatan lebih keras untuk menjaga matamu agar tidak terlihat jelas bahwa kamu memandangku dengan sebelah mata bahkan dari ujung bola matamu. Kamu harus mengindahkan peringatan itu sebelum kamu mendengar lebih jauh tentang apa yang akan menimpa seorang aku di sepuluh tahun mendatang. Aku akan menjadi orang sibuk (kamu tidak akan mendengar lebih dari dua kali, akan menjadi apa aku ini di sepuluh tahun mendatang karena aku yakin kamu akan ingat betul). Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup bagiku menyalurkan semua keinginan untuk belajar hingga mencapai gelar doktor, meski aku belum akan berhenti di titik itu untuk belajar karena yang aku yakini di sepuluh tahun yang akan datang aku akan berjibaku dengan bermacam-macam penelitian demi mendapatkan gelar prof. Ini bukan perkara gelar yang akan menghiasi namamu di tahun-tahun yang akan datang sebagai pertanda sejauh mana kamu sudah menempuh pendidikan, ini bukan soal prestige yang akan meningkatkan kedudukan sosialmu seiring meningkatnya pendidikanmu –meski itu akan terjadi-, tapi cita-citaku yang menuntut aku menempuh pendidikan sampai ke taraf itu. Aku ingin menjadi seorang reviewer, mulanya karena keuntungan dapat bepergian ke seluruh dunia karena kamu memang akan diakui oleh dunia dengan pendidikan setingkat itu, tapi kemudian alasannya bergeser menjadi ingin membaca semua hasil pemikiran orang di seluruh dunia. Ingin melihat inovasi-inovasi di jaman serba ada dengan sudut pandang, bahasa, latar belakang budaya dan semua sisi yang berbeda dengan seorang aku. Kembali lagi bahwa di sepuluh tahun mendatang aku akan disibukkan dengan berbagai penelitian untuk menyelesaikan studiku sembari bekerja di perusahaan telekomunikasi yang memang linier dengan latar belakang pendidikanku. Bekerja dengan standar jam kerja di negeri ini, berbagi ilmu dengan generasi milenium di sore hari, dan berbagi waktu dengan keluarga di sisa waktuku. Akhir pekan tentu akan menyenangkan melakukan apa yang kamu sukai, dan di akhir pekanku 10 tahun yang akan datang aku akan berusaha menangkap momen-momen di alam raya lewat kedua mata dan lensa kameraku. Minggu petang akan menjadi waktu yang mengasyikkan untuk duduk di sebuah perpustakaan sederhana milikmu yang terkemas rapi dengan semua koleksi buku-buku limited edition, akan lebih menyenangkan berbagi ruang dan cerita bersama sahabat di tempat itu. Itulah yang kuperjuangkan untuk terjadi dalam kehidupanku 10 tahun mendatang. Sekarang kamu bisa mengabaikan semua peringatanku di awal tadi, hingga aku bisa mendengar bahwa kamu berteriak keras bahwa aku hanyalah seorang pemimpi ulung. Tapi dengarlah wahai saudara, pemimpi ini jauh lebih baik daripada kamu yang tak berani bermimpi.