Monday, August 31, 2009

17 Agustus: Apakah Hanya Nasionalisme Satu Hari?



Upacara. Kegiatan wajib di hari kemerdekaan setiap tahunnya, di mana setiap orang yang berkesempatan mengikuti upacara pengibaran Merah Putih dan mendengar naskah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, lagi. Sekolah, kantor, dan tempat-tempat lain mempersiapkan Upacara Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbeda dari upacara-upacara senin dan hari nasional lain. Ini upacara spesial, meyangkut titik awal sejarah bangsa ini. Lain sisi, merah putih berkibar gagah di setiap tiang-tiang jalan, perkantoran, hingga pemukiman warga. Pernak-pernik khas hari proklamasi mendominasi seluruh negeri. Masyarakat pun berusaha tampil matching di hari itu dengan menyiapkan kostum khusus merah putih tanda keikutsertaan dalam pesta kemerdekaan seantero negeri. Beberapa hari bahkan satu minggu sebelum hari H, 17 Agustus, berbagai perlombaan rakyat yang hanya ada di bulan Agustus digelar. Sembilan tahun lalu, saya masih aktif ikut dalam berbagai perlombaan yang ada. Ya, sembilan tahun lalu, kala saya pun masih memakai seragam merah putih. Lomba makan kerupuk, membawa kelereng dengan sendok, memindahkan bendera dari satu botol ke botol lain, memasukkan paku dalam botol dan benang dalam jarum, dan mengambil koin pada labu yang coreng moreng, itulah segenap lomba khas Agustusan kata orang, yang selalu ada di bagian memori seorang anak Indonesia ini. Lain sisi, para remaja dan generasi tua akan menyiapkan acara penuh musik-musikan alias panggung hiburan untuk warganya. Rutin, satu tahun sekali. Kota besar? Saya rasa setiap Indonesia dapat melihat dan merasakan sendiri bagaimana bentuk kemeriahan dan semarak 17 Agustus, wujud suka cita di kota-kota besar lewat layar kaca. Meriah, bahkan sangat meriah.
Sekarang, 17 Agustus sudah lewat, merah putih tak lagi mendominasi jalan-jalan, meski masih berkibar di tiang-tiang perkantoran lewat upacara rutin setiap minggu. Berbagai perlombaan rakyat tak lagi digelar, semua usai kala setiap pemenang dari perlombaan tersebut mendapatkan hadiah di penghujung acara. Saat lomba berlangsung, semua terlarut dalam kemeriahan suasana, segelintir saja yang mencermati dan dapat mengambil nilai di balik serangkaian perlombaan itu bahwa untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan kita harus berusaha dan berkorban, serta bersaing dengan orang lain, begitu juga dengan kemerdekaan.Para pahlawan tak hanya berkorban waktu dan keringat, tapi juga darah dan seluruh jiwa demi kemerdekaan. Panggung hiburan yang digelar tak lagi mengusung tema Pesta Kemerdekaan atau Dirgahayu Bangsaku dan sederet tema-tema nasionalis lainnya. Panggung hiburan kala 17 Agustus pun tak menyisakan kesan mendalam yang berbulan-bulan tak hilang, selain meriah, banyak artis ibu kota, dipadati ribuan orang yang berdiri di tanah lapang, hingga kembang api. Adakah yang coba tinggal hingga panggung dan lapangan itu kosong? Apa yang tersisa? Serakan sampah sisa makan minum yang penikmat panggung hiburan yang akan menjadi urusan petugas kebersihan kemudian. Sisanya?
Tahun ke tahun, semuanya akan sama. Menjelang 17 Agustus, seluruh negeri bergegas menyiapkan seluruh kegiatan khas Agustusan, namun setelahnya? Usai tanpa geming hingga persiapan 17 Agustus berikutnya digelar dan acara-acara tahun sebelumnya dikumpulkan dalam tayangan flashback perayaan 17 Agustus. Inikah wujud nasionalisme? Untuk satu hari semua berlomba-lomba menunjukkan sikap nasionalis dan berusaha menterjemahkan nasionalis itu ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari pakaian, atribut, hiasan rumah, hingga ke perlombaan. Hanya di 17 Agustus kita bisa melihat merah putih menjadi warna yang mendominasi karena dibanggakan, hanya di 17 Agustus kita bisa melihat berbagai perlombaan syarat nilai perjuangan, hanya di 17 Agustus kita bisa melihat perayaan pesta rakyat, dan hanya di 17 Agustus nasionalisme menjadi meluap-luap. Adakah semua kegiatan 17 Agustus hanya untuk 17 Agustus itu sendiri? Apakah 17 Agustus hanya bentuk Nasionalisme satu hari?

No comments:

Post a Comment