"Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
... "
Lagu patriotik kepemudaan menggema di dalam lapangan basket indoor tempat berlangsungnya upacara. 28 Oktober 2010. Akan tetapi, lagu itu tersendat di bait kedua, hingga saat lagu itu dinyanyikan lagi dari awal... lagu itu masih dibawakan dengan suara terputus-putus. Ada yang hanya mengikuti di akhir, ada yang berhenti bernyanyi dan mengikuti lagi pada lirik yang diingat kemudian, dan ada yang bertanya ke kiri kanan apa gerangan lanjutan liriknya. Padahal, ruangan itu dipadati ribuan orang yang 90 persennya adalah siswa/i SMP dan SMA yang sejatinya masih akrab betul dengan lagu-lagu wajib nasional. Entah karena lagu-lagu tersebut sudah tidak terdaftar dalam bagian mata pelajaran kesenian atau karena kepedulian dan kebanggaan akan lagu-lagu nasional kian pudar, maka pembawaan lagu patriotik itu harus tersendat-sendat, jauh berbeda ketika aku masih duduk di bangku sekolah dulu.
(saat mengheningkan cipta, I miss this part in every single ceremony... remembering the heroes and what they did to this country)
Bencana yang terjadi beruntun di tanah air memang menyita perhatian seluruh negeri bahkan masyarakat dari belahan dunia yang lain turut bersimpati akan apa yang terjadi di bumi pertiwi. Indonesia berduka, Ibu Pertiwi menangis lagi. Di tengah duka yang menyelimuti negeri, ada satu momen besar yang terabaikan, Sumpah Pemuda. Aku membuka jejaring sosial tepat di 28 Oktober 2010, usai melaksanakan upacara di lapangan basket indoor Palembang. Tidak ada peringatan itu, tidak ada kalimat-kalimat cerminan Peringatan Sumpah Pemuda, seakan ada nuansa tak bersemangat, pemuda-pemuda yang merupakan dominasi pengguna jejaring sosial itu kian sibuk dengan aktifitas dan eksistensinya di dunia maya. Aku bukanlah orang yang tinggal di masa lalu, juga bukan bagian dari pemuda-pemuda yang memproklamirkan "bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu, Indonesia" itu, tak juga ahli sejarah atau peneliti korelasi teknologi dan pudarnya nilai-nilai patriotisme di kalangan remaja. Aku hanyalah satu dari segelintir orang yang merindukan semangat sumpah pemuda di sekitarku.
(inilah yang tersisa seusai seremonial, seusai peringatan-peringatan besar, sampah... teronggok tak bernilai hingga ada tangan-tangan brilian yang mengambilnya)

0 comments:
Post a Comment